Industri Tradisional Media di Indonesia terhadap the new media :
terkena dampak vs tidak terpengaruh
Tradisional media merupakan media yang telah lama hadir dan umum dalam penggunaannya, Tradisional media meliputi Televisi, Radio, dan Media Cetak ( Koran, bulletin, brosur, dan sebagainya). Perkembangan zaman telah menghantarkan masyarakat tidak hanya berpacu pada tradisional media (media mainstream) namun terdapat pilihan baru yaitu the new media. The new media adalah media massa baru yang memiliki karakteristik lebih menonjol dibandingkan tradisional. The new media dapat diakses dimana saja, kapan saja, dengan jangkauan yang sangat luas dan tidak terbatas jarak. The new media sering kita kenal media internet.
Media internet menghadirkan berbagai jenis media yang sebelumnya tidak mungkin dijangkau oleh tradisional media. Jejaring sosial seperti facebook, twitter h5 dan yang lainnya telah menjadi bagian keseharian masyarakat. Peng-update-an info dapat terus terjadi kapan saja dan bisa langsung melibatkan respon khalayak luas. Selain itu, masih terdapat blog, youtube, mailing list, atau website pribadi perusahaan yang juga bagian dari the new media. Hingga tercipta citizen journalism yang menghantarkan masyarakat menjadi bagian dari media massa secara langsung.
Tapi, pertanyaannya sekarang, bagaimana tradisional media dengan hadirnya the new media yang mampu menarik antusias begitu banyak dan cepatnya?? Apakah akan tetap eksis atau terpengaruh??
Menurut saya, tradisional media akan tetap eksis setidaknya untuk 10 tahun yang akan datang. Meskipun the new media telah menawarkan berbagai kelebihan tapi kebiasaan, karakter hingga budaya masyarakat di belahan bumi manapun akan tetap membutuhkan tradisional media untuk berkomunikasi. Kita bisa saja menggunakan internet seharian, tapi dengan sadar atau tidak kita tentu akan tetap menonton tv atau membaca Koran, majalah, brosur dalam sehari. Intinya, kebutuhan menggunakan Tradisional media tetap ada di khalayaknya sehingga keeksisannya tetap akan terjaga.
Ketika eksis apakah berarti tidak berpengaruh sama sekali?? Jawabannya jelas tidak. Meski eksis tapi dengan hadirnya the new media tetap saja berpengaruh bagi tradisional media. Pertama, intensitas mengkonsumsi tradisional media pasti akan terbagi dengan the new media. Kedua, Tradisional media tidak akan berkembang jika tidak dibantu dengan the new media. Deawasa ini, khalayak kita cenderung akan memilih tradisional media yang kredibel yang juga menyediakan fasilitas informasi yang dapat diakses dengan internet. Secara tidak langsung fenomena ini menggambarkan antara tradisional media dengan the new media saling simbiosis mutualisme. Layaknya ketika bertanya pada orang lain, “media apa yang Anda gunakan? Televisi, radio, Koran, atau internet?”, maka cenderung orang lain tersebut akan menjawab “semuanya”. Meski tidak digunakan secara bersamaan, tradisional media pun tetap akan menjadi media massa pilihan setiap orang. Karena bukan jenis media masa mana yang terpengaruh oleh jenis media massa lainnya tapi jenis media-media massa tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lain.
media massa ? ? ?
Twitter, Facebook, You tube dsb Bagi Jurnalis
Trending topic twitter, top news di facebook, dan beragam sumber online lainnya bermanfaat bagi seorang jurnalis. Kenapa? Karena dengan mengetahui isu publik, opini publik atau tren center yang berkembang di masyarakat dapat membantu jurnalis menentukan tema berita. Berita dapat disesuaikan dengan proximitas, aktualitas, dan realitas. Semuanya bisa didapat dengan tambahan referensi dari trending topic, top news di facebook, atau yang lainnya.
Contoh, ketika video Briptu Norman yang di up load melalui You tube ditonton banyak orang. Banyak jurnalis mengangkat berita dari sana. Masyarakat pun banyak tertarik dengan berita yang ditampilkan. Bahkan ketika video tersebut sudah dikenal luas dan Briptu Norman didatangkan ke Jakarta, kurang lebih seminggu media massa (para jurnalis) memberitakannya terus menerus. Jika jurnalis tidak mengikuti berita up date di media online akan kesulitan mengikuti trend dan perkembangan zaman.
Oleh karena itu, jelas terbukti Trending topic twitter, top news di facebook, dan beragam sumber online lainnya membantu jurnalis melakukan pekerjaannya.
Usamah bin Ladin
Melihat kehidupan pribadi pendiri dan pemimpin jaringan Al-qaedah, Usamah bin Ladin tercatat telah menikah 5 kali dan memiliki 20 anak. Saat berusia 17 tahun menikahi sepupunya, Najwa dan menikah lagi dengan 3 perempuan di tahun1990. Tahun 1996, ketika berada di pegunungan Tora Bora, Afganistan, dia menikah lagi untuk kali kelima.
(Suara Merdeka, Rabu, 4 mei 2011)





